Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Kisah terbingkai Airmata



Aku melihat kisah hari ini, sebuah kisah yang terbingkai oleh air mata. Sebuah kisah yang bertemakan cinta.
Kali ini kisah sebuah permainan rasa, mencintai tulus namun dikhianati. Terdengar biasa sehh,, karena hanya kisah yang berulang.
Namun, ketika setelah mengkhianati datang tanpa dosa dan meminta kecupan yang tak menyenangkan dikondisi hati yang sesak. Apa itu wajar? Pertanyaan yang timbul kemudian, apakah dia memiliki hati ? atau Mungkinkah dia bukan manusia, sehingga tidak tahu bagaimana kondisi rasa saat itu.

Sudah tergambarkan tujuan awalnya memang tidak pernah terbingkai rasa dihatinya. Tujuannya hanya untuk kepuasan semata, dan apakah tujuan itu bisa dibenarkan ketika dibantahkan kalimat “Dia tahu dari awal, mengapa dia bersedia melewati hari-hari selanjutnya”. Pernyataan yang memang benar, tetapi disisi lain pernyataan itu sulit untuk disinkronkan dengan logika yang telah terkontaminasi oleh rasa. Karena ketika kita telah jatuh cinta, rasa itu membuat kita berpikir dengan cara yang berbeda dari biasanya.

Jika kembali berpikir dalam kisah ini, kita tidak mampu mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Kembali ke pribadi masing-masing bagaimana cara menanggapinya. Tetapi ketika kita tahu rasa sakit hati, setidaknya kita berusaha untuk tidak saling menyakiti karena tidak ada Rumah Sakit manapun yang mampu mengobati rasa sakit seperti itu.

Sesugguhnya tidak ada kisah tentang cinta yang bisa terhindar dari air mata. Setidaknya dari air mata kita belajar dan kemudian mengerti.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar