Kali ini kisah sebuah permainan rasa, mencintai tulus namun dikhianati.
Terdengar biasa sehh,, karena hanya kisah yang berulang.
Namun, ketika setelah mengkhianati datang tanpa dosa dan meminta kecupan
yang tak menyenangkan dikondisi hati yang sesak. Apa itu wajar? Pertanyaan
yang timbul kemudian, apakah dia memiliki hati ? atau Mungkinkah dia bukan
manusia, sehingga tidak tahu bagaimana kondisi rasa saat itu.
Sudah tergambarkan tujuan awalnya memang tidak pernah terbingkai rasa
dihatinya. Tujuannya hanya untuk kepuasan semata, dan apakah tujuan itu bisa
dibenarkan ketika dibantahkan kalimat “Dia tahu dari awal, mengapa dia bersedia
melewati hari-hari selanjutnya”. Pernyataan yang memang benar, tetapi disisi
lain pernyataan itu sulit untuk disinkronkan dengan logika yang telah
terkontaminasi oleh rasa. Karena ketika kita telah jatuh cinta, rasa itu
membuat kita berpikir dengan cara yang berbeda dari biasanya.
Jika kembali berpikir dalam kisah ini, kita tidak mampu mencari siapa
yang benar dan siapa yang salah. Kembali ke pribadi masing-masing bagaimana
cara menanggapinya. Tetapi ketika kita tahu rasa sakit hati, setidaknya kita
berusaha untuk tidak saling menyakiti karena tidak ada Rumah Sakit manapun yang
mampu mengobati rasa sakit seperti itu.
Sesugguhnya tidak ada kisah tentang cinta yang bisa terhindar dari air
mata. Setidaknya dari air mata kita belajar dan kemudian mengerti.










