Kali
ini tulisanku sedikit berbeda, yang tadinya didominasi oleh rangkaian kata
indah menyerupai Puisi. Dan saat ini, dalam tulisan ini aku ingin sedikit
bercerita.
Cerita
ini bukan pertama kalinya ku dengar, banyak teman-temanku yang pernah curhat
tentang masalah seperti ini. Masalahnya terkait oleh sikap Orang tua mendidik
anaknya. Beberapa saat yang lalu, seorang temanku menangis tersedu-sedu dan
saat ku tanya kenapa, dia menjawab “Aku
sakit hati karena perlakuan orang tuaku yang seakan menganak tirikan diriku”. Aku tidak kaget mendengar jawabanya karena
itu bukan kalimat yang pertama kali ku dengar darinya tetapi sebelumnya telah
banyak temanku pernah melontarkan kalimat yang sama. Mengapa sampai mereka
melontarkan kalimat seperti itu? Yah rasa sakitnya pasti menyesakkan.
Seketika
isi kepalaku tak henti memikirkannnya, Apakah orang tua tak sadar setiap
tingkah yang diperlakukan kepada anaknya memiliki dampak yang bisa jadi negatif
buat anaknya dan mungkin dapat mempengaruhi psikologi anak itu sendiri. Dimulai
dari kata-kata hingga sikapnya kepada anaknya.
Atau
mungkin anak yang terlalu sensitif dan tidak mengerti maksud orang tuanya,
tetapi seandainya memang orang tua memiliki maksud lain dari sikapnya yang
tidak menyenangkan (bagi anaknya) mengapa tak disampaikan saja secara langsung
saja, apalagi ketika anaknya telah dewasa tentunya akan lebih mudah untuk
berkomunikasi dengan baik.
Contoh
perkara yang sering temanku curhat yakni adanya ‘Pilih Kasih’ antara anaknya
dan saudaranya yang lain. Mengapa bisa ada hal demikian ?? apakah memang ada beda rasa di setiap anaknya
masing-masing. Tetapi salah satu fakta yang ku alami sendiri, ada orang tua berkata “Seandainya
dapat dilihat dan dapat diukur rasa sayang kepada setiap anak itu sama” kata
seoarang ayah kepada anaknya. Terus begaimana
dengan orang tua lain ?? Apakah ada
kemungkinan ‘Beda Rasa’.. Entahlahh. . .
Belum
lagi ketika anak menjadi pelampiasan amarah orang tuanya. Hal ini sering
kudapati tetapi apakah itu wajar ??
Jika hanya satu atau dua kali menjadi pelampiasan itu mungkin dapat
dimengerti tetapi ketika itu berulang terus menerus, ku pikir itu mulai tidak
wajar karena akan sangat menyakitkan bagi anaknya. Entalah... (Lagi)
Menurutku
hubungan orang tua dan anaknya yang ideal adalah ketika ada kata ‘Mengerti’ dan yang sebaiknya dominan
dengan kata itu adalah anak bukan orang
tua untuk itu mengertilah wahai sang anak ketika orang tua bingung bersikap.
Namun ketika kebingungannya merajalela berilah sedikit bumbu penjelasan tapi
INGAT penjelasan bukan menggurui. Kemudian ketika hubungan yang sakral (orang
tua dan anak) itu dirangkul kehangatan yang tahu tempat yakni tahu kapan bisa
jadi seorang sahabat dan tahu kapan menjadi orang tua.
Terakhir, bagaimanapun dan seperti apapun, mereka adalah tetap orang tua dan sayangilah selagi masih sempat.
Sekian..
Tulisan ini ini hanya sekedar cuap-cuap opini saja, tidak ada maksud apapun
kok..
Tulisan ini buat temanku yang telah menginspirasi diriku menulis hal ini..
^Ganbatte Sobat selalu ada indah dibalik duka (Sedih dan Senang itu satu paket)^











