Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Blaa... Blaa... Blaaa....



Kali ini tulisanku sedikit berbeda, yang tadinya didominasi oleh rangkaian kata indah menyerupai Puisi. Dan saat ini, dalam tulisan ini aku ingin sedikit bercerita.


Cerita ini bukan pertama kalinya ku dengar, banyak teman-temanku yang pernah curhat tentang masalah seperti ini. Masalahnya terkait oleh sikap Orang tua mendidik anaknya. Beberapa saat yang lalu, seorang temanku menangis tersedu-sedu dan saat ku tanya kenapa, dia menjawab “Aku sakit hati karena perlakuan orang tuaku yang seakan menganak tirikan diriku”.  Aku tidak kaget mendengar jawabanya karena itu bukan kalimat yang pertama kali ku dengar darinya tetapi sebelumnya telah banyak temanku pernah melontarkan kalimat yang sama. Mengapa sampai mereka melontarkan kalimat seperti itu? Yah rasa sakitnya pasti menyesakkan.


Seketika isi kepalaku tak henti memikirkannnya, Apakah orang tua tak sadar setiap tingkah yang diperlakukan kepada anaknya memiliki dampak yang bisa jadi negatif buat anaknya dan mungkin dapat mempengaruhi psikologi anak itu sendiri. Dimulai dari kata-kata hingga sikapnya kepada anaknya.

Atau mungkin anak yang terlalu sensitif dan tidak mengerti maksud orang tuanya, tetapi seandainya memang orang tua memiliki maksud lain dari sikapnya yang tidak menyenangkan (bagi anaknya) mengapa tak disampaikan saja secara langsung saja, apalagi ketika anaknya telah dewasa tentunya akan lebih mudah untuk berkomunikasi dengan baik.

Contoh perkara yang sering temanku curhat yakni adanya ‘Pilih Kasih’ antara anaknya dan saudaranya yang lain. Mengapa bisa ada hal demikian ??  apakah memang ada beda rasa di setiap anaknya masing-masing. Tetapi salah satu fakta yang ku alami sendiri, ada orang tua berkata “Seandainya dapat dilihat dan dapat diukur rasa sayang kepada setiap anak itu sama” kata seoarang ayah kepada anaknya.  Terus begaimana dengan orang tua lain ??  Apakah ada kemungkinan ‘Beda Rasa’.. Entahlahh. . .

Belum lagi ketika anak menjadi pelampiasan amarah orang tuanya. Hal ini sering kudapati tetapi apakah itu wajar ??  Jika hanya satu atau dua kali menjadi pelampiasan itu mungkin dapat dimengerti tetapi ketika itu berulang terus menerus, ku pikir itu mulai tidak wajar karena akan sangat menyakitkan bagi anaknya. Entalah... (Lagi)

Menurutku hubungan orang tua dan anaknya yang ideal adalah ketika ada kata ‘Mengerti’ dan yang sebaiknya dominan dengan kata itu adalah anak bukan orang tua untuk itu mengertilah wahai sang anak ketika orang tua bingung bersikap. Namun ketika kebingungannya merajalela berilah sedikit bumbu penjelasan tapi INGAT penjelasan bukan menggurui. Kemudian ketika hubungan yang sakral (orang tua dan anak) itu dirangkul kehangatan yang tahu tempat yakni tahu kapan bisa jadi seorang sahabat dan tahu kapan menjadi orang tua.


Terakhir, bagaimanapun dan seperti apapun, mereka adalah tetap orang tua dan sayangilah selagi masih sempat.
Sekian.. Tulisan ini ini hanya sekedar cuap-cuap opini saja, tidak ada maksud apapun kok..   

Tulisan ini buat temanku yang telah menginspirasi diriku menulis hal ini..
^Ganbatte Sobat selalu ada indah dibalik duka (Sedih dan Senang itu satu paket)^




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

'Tak Semudah Itu'


Andai semudah meniup kapas yang langsung bertebaran kemudian

Tapi untuk mengungkap rasa tentangmu tak semudah itu
Andai semudah mengedipkan mata
Menunjukan rasa kepadamu tak semudah itu
Andai semudah tersenyum  saat bahagia
Untuk bisa dekat denganmu tak semudah itu

Aku tak seperti mereka yang mudah mengungkap rasa
Aku bukan mereka yang dengan gamblang menunjukan rasa
Aku tak bisa seperti mereka yang dengan mudah dapat mendekat

Andai aku mampu, aku ingin mengucapkan bahwa ‘Aku Suka’
Andai aku mampu, aku ingin menunjukan bahwa ‘Aku benar-benar Suka’

Ingin ku ucapkan melalui bibirku
Tapi tertutup rapat
Ingin ku tulis sebuah pesan
Jari jemariku kaku
Ingin ku tunjukan melalui gerak
Tubuhku terdiam
Jadi  ku rangkai kata dalam hati dan ku biarkan angin yang membawanya

Akhh....
Tak semudah itu


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pertemuan Itu . . .


Kamu hadir di separuh kisahku

Kamu merangkai hal indah sejak pertemuan itu
Berawal dari sebuah pertemuan dan kini terangkai cerita
Dan dibalik cerita kupautkan sebuah asa
Yang mana asa yang semakin melambung kian hari

Jauh setelah pertemuan itu,
Asaku berubah menjadi sebuah obsesi tentangmu
Akupun tersesat dibayang-bayang dirimu
Dan akupun semakin keluar dari jalur yang seharusnya

Kini aku tak kuasa dengan asaku dulu
Kini aku tersandung karang dari sebuah asa yang ku buat sendiri
Dan asa itu yang kini menjerat dan menyesakkan
Indah seketika buram

Aku tak pernah menyesali pertemuan itu
Yang kusesali adalah telah membalut asa tentangmu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS