Terjebak dikondisi yang
berhasil mengusik konsentrasiku sedari pagi.
Kondisi yang kuinginkan
namun disisi lain ada hal yang menjadi konsekuensi ketika aku memilih untuk
menjalaninya.
Pertanyaan selanjutnya,
mampukah aku untuk menerima konsekuensi tersebut ??
Jawabku “Tidak” aku
tidak seberani itu.
Pada akhirnya aku
merelakan keinginanku pergi dengan menyisakan sensasi dihatiku. Luka,, itu yang
disisakannya. Setidaknya luka yang akan kuperoleh dari konsekuensi mendatang
akan lebih besar dibanding luka saat ini.
Aku butuh suntikan
positif untuk kepalaku saat ini dan yang akan mempengaruhi hatiku. Tidak semudah
mengucapkannya, aku butuh tenaga ekstra untuk menyuntikannya dikepalaku. Yang kemudian
aku geram dalam hati karenanya aku harus bersembunyi dibalik senyum palsu lagi.
Meski sering kali
berakhir seperti ini, tetapi ini bukan kesalahan kok, bukan sebuah keEgoisan
pula atau bahkan bukan ketakutanku semata. Aku yakin setiap orang pernah
diposisiku saat ini. Tetapi hanya sebagian yang memilih untuk meninggalkan
keinginannya agar tidak terluka berlebihan dikemudian hari. Banyak diantaranya
yang memilih menjalaninya dengan alasan dampak mendatang belum tentu seperti
yang prediksikan. Tetapi aku tak seberani mereka yang memilih mencoba dengan
harapan konsekuensi tersebut hanya ketakutan semata.
Logika yang terangkum
dikepalaku saat ini, ketika awal dari cerita sebuah kondisi yang diinginkan
menunjukan diluar garis yang seharusnya artinya merupakan awal yang buruk serta tidak menggambarkan akhir yang menyenangkan. Kemudian apa lagi yang menjadi pertimbangan ketika sudah terlihat buruk. Jika menjalani yang artinya melakukan pembiaran dampaknya hanya memberikan sedih berkepanjangan.. tohh,, ketika aku memilih seperti ini dan tidak ada feed back lain yang mempengaruhi pilihanku berarti aku sudah benar kann...
Aku hanya butuh bertahan lagi kann ???
*Hanya sekedar blaa... blaa... blaa*
*Part Of a Story*












0 komentar:
Posting Komentar