Kehidupan
hadir dengan berisi kisah indah dan kemunafikan pelakunya. Tak ada yang tahu,
tak ada yang mampu menerka setiap tingkah pelakunya. Berhati-hatilah dalam
melangkah dan memilih rekan untuk melangkah karena tidak ada yang tahu mana
rekan yang baik dan yang jahat.
Bahkan
orang yang sedarah sekalipun denganmu belum tentu adalah rekan yang baik untuk
melangkah bersama. Mengapa demikian ??
Itu karena mereka juga belum tentu mampu bersikap baik. Mereka lupa atau
bahkan tidak perduli dengan hubungan sedarah itu, mereka lupa jikalau mereka
dilahirkan dirahim yang sama atau setidaknya hubungan darah mereka tidak
terlampau jauh. Mereka akan dengan mudah mencaci, menjatuhkan bahkan tidak
segan untuk berbuat kasar. Jika demikian, masih pantaskah mereka disebut orang
yang sedarah dengan kita??. Kemana hubungan emosional yang seharusnya ada
diantara mereka. Apakah hilang seketika disaat sebuah alasan ada diantara
mereka. “Kita mungkin lahir dirahim yang
sama, tetapi dengan sebuah alasan kita dapat melupakan jikalau kita adalah
saudara”. Kata “Maaf” dan “Memaafkan” tak berlaku lagi !!.
Kehidupan
menghadirkan sebuah kesulitan mengenal orang-orang yang ada disekeliling kita. Orang
dewasa dapat bersikap seperti anak kecil, sahabat dapat seketika berubah
menjadi musuh, hal kecil dapat menimbulkan efek yang besar, keluarga dengan
mudah melupakan keluarganya yang lain dan orang yang tak sedarah dengan kita
dapat berwujud melebihi saudara. Adanya semua hal demikan membuat kita harus
bisa dan siap bertahan di jalur kehidupan yang telah ditakdirkan.
Mengapa
ada hal demikian menyelimuti kisah kehidupan. Mampukah pelaku kehidupan
menjalani sisa kehidupannya dengan lika-liku yang disediakan oleh Sang Pemilik
Kehidupan. Kemugkinan tersesat jika dihadapkan dengan hal dtersebut akan sangat
besar. Pelaku kehidupan membutuhkan power yang lebih besar untuk berjuang di
sisa kehidupannya. Power itu bersumber dari Iman sang pelaku yakni kedekatannya
dengan Sang Pemilik Kehidupan.











0 komentar:
Posting Komentar